Keteladanan Seorang Guru 8 Februari 2010
Posted by masdin in Tak Berkategori.Tags: inspirasi untuk negeri, kontribusi blogger
trackback
Saat ini negara kita Indonesia tercinta sedang goyah dan terguncang. Bukan dikarenakan gempa dan serentetan bencana alam lainnya yang sering terjadi belakangan ini, namun dikarenakan negara kita ini yang tak henti-hentinya dihantam oleh krisis multidimensi yang berkepanjangan. Setelah krisis moneter yang terjadi seiring runtuhnya rezim Soeharto dan meluluhlantakkan perekonomian bangsa yang hingga kini dampaknya masih terasa dan semakin menjepit rakyat-rakyat kecil, kini disusul pula oleh berbagai krisis lainnya. Krisis kepercayaan, krisis kesetiaan dan krisis keteladanan yang membuat bangsa semakin terpuruk.
Rakyat kini kebingungan memikirkan kepada siapa lagi mereka akan menyuarakan hak-hak dan kepentingan mereka. Seolah tak ada lagi yang peduli, karena orang-orang yang mereka harapkan mampu melaksanakan aspirasi rakyat justru menjadi bagian dari masalah besar yang tengah dialami negeri ini. Para pemimpin negeri yang bukannya berdiri untuk menjalankan kepentingan rakyat semua golongan justru sedang sibuk memikirkan bagaimana agar lepas dan tidak terkait dengan masalah negara yang terjadi sekarang ini.
Meskipun begitu, saya tetap percaya dan yakin bahwa masih ada banyak orang di negeri ini yang mempunyai dan memegang teguh idealismenya serta berperilaku yang dapat menjadi teladan bagi rakyat dan bangsa ini. Orang-orang yang dengan ikhlas tanpa pamrih mau melakukan hal-hal yang mungkin adalah hal yang biasa, yang merupakan bagian dari kesehariannya namun ternyata sangat berarti dan bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan di sekitarnya.
Adalah pak Arif, yang membaktikan dirinya sebagai seorang guru SMU di sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan selama hampir 25 tahun. Pak Arif adalah seorang guru yang sangat dicintai oleh para siswanya, cukup disegani oleh rekan sesama guru bahkan masyarakat yang tinggal di lingkungan tempat tinggalnya.
Pertama kali terangkat sebagai PNS/guru, beliau langsung ditempatkan di daerah yang jauh dan belum pernah ia datangi sebelumnya. Tanpa pikir panjang, dengan berbekal niat dan tekad yang bulat untuk mengamalkan ilmunya, beliau tidak ragu menerima tantangan tersebut. Beliau nekad membawa serta istri dan kedua anaknya yang masih balita ke daerah yang masih asing dan tidak ada sanak keluarga sama sekali. Beliau mampu meyakinkan keluarganya bahwa Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang sabar dan ikhlas dan akan selalu menolong hambanya yang kesulitan jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Selama membaktikan diri di sekolah tempat dia bertugas, beliau banyak memberikan saran dan kritik yang membangun yang membawa pengaruh positif yang besar hingga kini sekolah tersebut telah menjadi sekolah unggulan di kota tersebut. Beliaulah yang pertama kali berinisiatif mengadakan perbaikan-perbaikan di sekolah yang dulunya sangat mirip dengan sebuah bangunan panjang yang dikelilingi daerah persawahan atau perkebunan liar. Karena tanaman yang tumbuh berserakan tak terawat dan 2 buah kolam besar yang tak terurus menjadikan “pemandangannya” sangat jauh dari sebuah sekolah. Namun atas inisiatif dan usaha keras beliau bersama rekan guru lainnya, perlahan sekolah itu menjadi asri dan indah dipandang serta layak disebut sebagai sebuah sekolah.
Saat sekolah mendapatkan kunjungan dari departemen pertanian dan perikanan, beliaulah yang mengusulkan kepala sekolah untuk meminta benih ikan dan bibit tanaman yang bermanfaat. Mereka yang berkunjung sangat senang karena di sekolah lain yang mereka datangi sebelumnya meminta dana, tidak meminta seperti yang apa yang diminta kepala sekolahnya. Menurut beliau, tanah kosong di belakang sekolah sangat baik jika ditanami buah-buahan dan tanaman obat sementara 2 kolam diberi benih ikan agar kelak hasilnya bisa dinikmati bersama-sama. Beliaulah juga yang paling banyak andilnya pada saat penanaman bibit dan perawatan tanaman hadiah tersebut. Setelah waktu berlalu dan semua warga sekolah bisa menikmati hasilnya, bermunculanlah orang-orang yang mengaku berjasa atas semua itu. Beliau hanya tersenyum saja menanggapi hal tersebut.
Saat kejenuhan melanda para guru yang gajinya pas-pasan sementara tuntutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan semakin meningkat, banyak guru yang berlomba-lomba mengurus agar bisa menjadi pengawas. Pekerjaan yang jauh lebih mudah dengan gaji dan tunjangan yang lebih tinggi dibanding sebagai guru biasa. Namun hal itu sama sekali tidak menarik hati beliau. Menurutnya, dengan beralih dari guru menjadi pengawas berarti akan kehilangan kesempatan untuk berbagi ilmu dengan siswa-siswanya yang membutuhkan. Akan kehilangan ladang dakwah dan pahala atas amanah ilmu yang dititipkan oleh Tuhan kepadanya.
Pernah juga sekali waktu, beliau mendapatkan tawaran untuk pindah ke sebuah SMU favorit di kota besar dengan jabatan sebagai kepala sekolah dari kepala Diknas propinsi. Waktu itu, yang menjabat sebagai kadiknas masih ada hubungan keluarga dengan beliau. Namun dengan halus beliau menolak tawaran itu, karena selain tidak ingin dikatakan terkait KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) juga ada satu alasan yang jauh lebih penting. Katanya beliau terlanjur cinta pada sekolah itu dan rasanya tidak tega meninggalkannya. Padahal beliau diminta oleh kadiknas untuk pindah bukan karena ada hubungan keluarga, namun karena kinerja dan prestasinya selama inilah yang menyebabkan beliau pantas mendapatkannya. Saat didesak oleh keluarganya untuk menerima tawaran itu, bukannya menerima tawaran tersebut justru menasihati keluarganya agar ikhlas menerima apa yang sudah ada. Beliau mengatakan kekhawatirannya, bahwa bukan tidak mungkin kelak dia akan ikut korupsi jika menerima jabatan sebagai kepala sekolah tersebut karena dengan menerimanya berarti godaan dan peluang untuk itu semakin terbuka lebar. Beliau sadar bahwa praktik KKN itu bisa berjalan bukan karena hanya ada niat tapi juga karena ada kesempatan. Namun bukan berarti bahwa semua yang menjadi kepala sekolah itu melakukan korupsi. Ini hanyalah kekhawatiran beliau semata.
Pada tahun 2004, saat terjadi pergeseran kepala-kepala sekolah di kota tersebut, terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh para siswa. Termasuk juga di sekolah tempat beliau mengajar. Para siswa menolak dan mengancam akan mogok sekolah jika kepala sekolah yang baru itu tetap dipertahankan. Mereka menganggap bahwa kepala sekolah yang baru itu sangat arogan dan tidak menghargai siswa bahkan rekan-rekan guru yang dipimpinnya. Banyak kebijakan-kebijakannya yang bertentangan dengan kebijakan yang telah berlangsung puluhan tahun sebelum kepemimpinannya. Sebagai guru senior, Pak Arif-lah orang yang menjadi tempat curahan hati para guru yang mendapat perlakuan tidak adil dari kepala sekolah tersebut, juga sebagai tempat para siswa mengadu atas perlakuan tidak wajar yang diberikan kepada mereka. Ini menyebabkan ada beberapa guru yang mungkin selama ini kurang suka dan sentimen padanya berupaya menghancurkan nama baik beliau untuk mengambil hati pemimpin baru itu. Sampai kemudian kepala sekolah tersebut menganggap bahwa pak Arif adalah dalang dari semua itu. Kepala sekolah itu menganggap bahwa beliau yang meracuni pikiran para siswa agar berdemo menuntut pengunduran dirinya karena menginginkan jabatan sebagai sepala sekolah. Beliau begitu terpukul, tak menyangka bahwa ada rekan sesama guru yang tega memfitnah beliau demi mendapatkan hati dan jabatan yang lebih baik sehingga kepala sekolah tersebut menuduhnya yang tidak-tidak dan mengucilkan beliau. Saat rapat dadakan digelar, hanya beliaulah yang tidak diajak oleh kepala sekolah padahal beliau adalah wakil kepala sekolah di bidang prasarana.
Beliau menerima semua itu dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa yang benar akan selalu menang. Dan beruntunglah, masih banyak guru lain yang lebih percaya kepada beliau dan berdiri bersama para siswa untuk memerangi kesewenang-wenangan yang terjadi di sekolah itu. Beliau berupaya agar para siswa tidak berdemo anarkis dan bersama rekan guru lainnya menemui kepala diknas demi penyelesaian masalah tersebut. Sampai akhirnya keinginan para siswa dan guru itu dikabulkan oleh kepala diknas dan diputuskan untuk memutasi kepala sekolah tersebut ke sekolah yang lain.
Hingga kini beliau tetaplah seorang guru. Beliau tetap setia membaktikan diri di sekolah yang sama sejak pertama kalinya terangkat menjadi guru. Beliau masih disana dan mungkin akan tetap disana hingga masa pensiunnya tiba. Walaupun cobaan datang silih berganti selama masa baktinya di sekolah tersebut tapi hal itu tak sanggup menyurutkan sedikitpun semangat dan tekadnya sejak dulu.
Setiap tahunnya saat HUT PGRI (hari guru) tiba, beliaulah guru yang paling banyak mendapatkan setangkai bunga tanda terima kasih dan cinta para siswa. Tangkai-tangkai bunga yang dirangkai sedemikian rupa yang hingga kini menghiasi setiap meja di rumah beliau.
Sungguh beliau bukan siapa-siapa, namun begitu banyak pelajaran berarti yang diberikannya, bukan dengan kata-kata tapi dengan sikap dan perilaku yang ia tunjukkan sehari-harinya. Saya sangat bangga dan mengagumi beliau bukan karena dia seorang yang mempunyai nama besar, beliau hanya seorang guru di sebuah kota kecil yang tak pernah lelah berbuat kebajikan dan memberi contoh pada semua orang di sekitarnya. Dia tak pernah meminta apalagi memerintah orang lain untuk mengerjakan sesuatu, dia lebih senang mengerjakan apa yang menurutnya masih bisa dikerjakan sendiri.
Dia hanya seorang guru yang yang akan selalu menjadi panutan bagi siswa yang pernah dididiknya, bagi orang-orang yang pernah mengenalnya dengan baik. Seorang yang akan selalu menjadi teladan bagi siapa pun yang pernah mengenalnya. Yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk orang banyak tanpa pamrih.
Sungguh dia bukan siapa-siapa, tapi saya sangat bangga dan kagum padanya, bukan karena dia seorang pemimpin bangsa tapi karena dia adalah Ayahku.



























pak arif, guru teladan yang patut menjadi inspirasi negeri.
terima kasih kontribusinya sobat.
salam,
anjari umarjianto
kebetulan saya produk jaman kuno, sehingga banyak saya menemui guru-guru teladan semacam orang tua Saudara, mereka mengajar bukan karena terpaksa, tetapi mereka mengajar karena memang panggilan jiwa yang ingin mencerdaskan bangsa, mereka bangga menjadi pendidik bangsa, walau tidak bergelinang materi, kebahagiaannya adalah bisa melihat anak didiknya menjadi orang yang berahlak mulia serta berguna bagi lingkungannya. Itulah kebahagiaan sejati bagi seorang guru, beda dengan kebanyakan guru jaman sekarang yang menjadi guru bukan karena panggilan jiwa, tetapi hanya sekedar pelarian karena tidak diterima ditempat lain, sehingga pendidikan jaman sekarang menjadi lahan bisnis. Tak peduli dengan mutu, untuk menjadi Sarjana cukup waktu dua tahun asal punya duit.
inspiratif. salam takzim buat sang guru
Untuk para guruku,
Mungkin kau lupa telah telah aku ajarin pekerti,
Mungkin kau tak merasa telah kau contohkan aku kebijakan,
Mungkin kau tak menyadari telah kau tanamkan kami semangat,
Mungkin kau tak memikirkan atas segala pengorbanan untuk kami,
Kau sendiri tak menghitung-hitung materi, karena waktu dan dirimu kau ikhlaskan untuk kami
Apakah KEIKHLASAN yang kau berikan pada kami sekarang dinamakan PROFESIONALISME ?
Siapa pun orangnya dia adalah guru buat kita semua. Salam
setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan…….
Patut ditiru..
Kalo yang ini mah GURU asli. Patut digugu dan ditiru
salam kenal?
subhanallah…semoga pak Arif senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang Allah SWT…amin…
Sebagai guru juga, wah… saya harus banyak belajar dari kearifan Pak Arif, sang inspirasi bagi negeri. Salute!
Pak Arif, you are inspiring me,
semoga saya bisa meneladani anda dan berusaha untuk menjadi guru yang lebih baik
Pak Arif, semoga saya bisa meneladani Karakter anda, dan menjadi manusiayang lebih baik……………”Thanks ya for inspirasinya…”
wN3SVD cawbqmzcuzhs