Cinta Itu Bagai Bumbu Rujak Spesial

22 Feb 2012

Cinta, sepertinya tak ada habisnya untuk dibicarakan. Semua selalu terangkai secara lengkap dalam susunan 5W + 1H, dimulai dari what (defenisi dari cinta itu sendiri), who (siapa pelakunya), when (kapan cinta itu bisa terjadi), where (dimana terjadinya cinta), why (Kenapa cinta bisa terjadi) and how (bagaimana terjadinya). Kali ini seorang sahabat netter kembali menguji sejauh mana kemampuan kita menggambarkan seperti apa rasanya cinta.
pertanyaan-sandy-habeahan
Saya pribadi orang yang tak biasa berpanjang kata kalau menyangkut soal cinta. Karena bagi saya, cinta itu sederhana dalam kata tapi justru begitu rumit ketika harus mengaktualisasikannya.
Tetapi ketika ditanyakan cinta itu rasanya seperti apa, saya mungkin bisa menjawab dengan sederhana. Cinta itu bagai bumbu rujak spesial, ada manis, asam, asin, pedas dan terkadang mungkin ada pahitnya.

Saya yakin, tak ada orang yang tak suka makan rujak. Karena dengan makan rujak, indra pengecap kita bisa melaksanakan fungsinya sekaligus. Sama seperti cinta. Tak ada orang yang tak ingin merasakan yang namanya cinta. Karena dengan merasakan cinta, kita merasa lebih hidup. Tanpa cinta, hidup pasti akan terasa hampa, entah cinta itu diartikan secara universal ataupun secara khusus.

Kalau ada sobat netter yang memikirkan bahwa cinta itu rasanya manis kaya’ gula, sebaiknya cepat-cepat merubah pemikiran. Kalau pun ada, pasti itu hanya ada dalam cerita fiktif belaka seperti yang sering kita lihat di layar kaca, atau pentas sandiwara yang selalu mengusung tema, bahwa cinta itu hanya yang indah-indah saja. Sama halnya jika ada yang menganggap jatuh cinta hanya membuat kita merasakan yang namanya penderitaan dan kesengsaraan, sebaiknya jangan terburu-buru mengiyakan. Kenyataannya, walau yang merasakan cinta itu sedang menderita, tetapi saya yakin ia juga pernah merasakan yang indah-indah sebelumnya.

Kembali ke soal rasa, cinta itu memang persis bumbu rujak spesial. Ada manis, asam, asin, juga pedas, komplit pokoknya. Kalau bisa, kita semua pasti inginnya tak ada pahit-pahitnya. Saat kita memasukkan sesendok rujak ke dalam mulut kita, itu sama ketika kita memasukkan segenggam cinta ke dalam hati dan pikiran kita. Mimik dan perasaan kita akan selalu sama saat mengunyah sesendok rujak atau segenggam cinta.

Rasa manis sebagai lambang bahwa dengan merasakan cinta, hidup kita terasa lebih berwarna. Selalu berusaha membuat diri jadi sosok yang terbaik untuk si dia. Setiap detik kebersamaan yang membuat kita tersenyum selalu menjadikan hidup terasa begitu manis dan menyenangkan.

Rasa asam sendiri sebagai lambang ketika merasa menemukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita harapkan dari si dia yang kita cintai. Sama halnya dengan rasa asin, sebagai lambang ketika kita merasakan perbedaan itu mulai menimbulkan sedikit ketegangan. Ketegangan yang terbangun karena mulai timbul ego, ingin menjadi penentu, ingin dituruti oleh pasangan atau apapun yang membuat kita harus merasakan asinnya kehidupan.

Rasa pedas sendiri terlahir karena perbedaan yang tadinya menimbulkan ketegangan mungkin berujung pada kekecewaan. Biasanya setelah merasakan rasa pedas, kita akan kembali merasakan nikmatnya rasa manis. Ketegangan yang selalu berujung pada tumpahnya air mata selalu mengembalikan kondisi seperti dari awal lagi. Kembali merasakan yang indah-indah.

Sementara rasa pahit sendiri jarang terasa. Kalau rujak ada rasa pahitnya, mungkin ada buahnya yang tak terolah dengan benar-benar baik dan bersih. Seperti pahitnya cinta, itu juga tak selalu terjadi. Karena fase pedas selalu membuat kita kembali berusaha menjadikannya ke fase manis. Kalau ada yang harus merasakan rasa pahitnya cinta, itu ketika kedua belah pihak sulit mengembalikan keadaan menjadi indah kembali. Sulit menerima dan memahami satu sama lain sehingga perpisahan harus terjadi.

Siapapun pasti ingin merasakan cinta yang normal, wajar, seperti adanya. Cinta seperti bumbu rujak spesial, komplit rasanya. Dan berharap tak pernah mengecap rasa pahitnya.

Bagaimana denganmu???


TAGS BLOGGER BICARA CINTA RASA CINTA BUMBU RUJAK


-

Author

Follow Me