Kehamilan, Proses Pembelajaran & Kepekaan

13 Mar 2012

Kehamilan adalah sebuah proses yang menakjubkan. Kedatangannya begitu dinantikan oleh setiap pasangan yang telah menikah. Saat masa itu datang, berbagai perasaan berkecamuk di dalam pikiran baik itu oleh sang wanita yang mengalaminya juga sang lelaki sebagai suami yang harus selalu siap setiap saat di sisinya. Bahagia, tentu saja. Namun rasa takut, khawatir, gelisah, was-was dan sebagainya juga selalu turut serta bersamanya.

Demikian pula yang saya rasakan setiap kali istri sedang hamil. Sebagai pasangan yang menikah muda yang tinggal jauh dari kedua orang tua, masa kehamilan sang istri secara tak sengaja selalu menjadi ajang pembelajaran untuk menjadi suami yang jauh lebih baik. Apalagi saat istri hamil, efek perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuhnya selalu saja memberi dampak yang kadang bertolak belakang dengan kebiasaannya di luar kehamilan.

Seperti istri saya, termasuk wanita yang selalu mengidam cukup berat saat hamil. Di kehamilan anak kami yang pertama dan kedua, ia cukup berat melewati trimester awal dan tengah. Selalu saja, kesulitan makan. Benci dengan semua bau-bauan. Sangat sensitif dan berbagai perubahan sikap yang tentu saja tidak dibuat-buat dan cukup melelahkan. Namun dengan berbagai macam ujian itu, dia selalu menjadi istri yang kuat. Ia tetap berusaha dengan maksimal mengerjakan segala tugas dan kewajibannya. Meski lelah, ia sama sekali tak pernah mengeluh.

Mengenai ngidam berat yang selalu dirasakan istri, terkadang menuai beragam pertanyaan dari keluarga juga kerabat dan tetangga. Ada yang bertanya, kenapa memutuskan untuk hamil dalam jarak berdekatan antara satu kehamilan dengan kehamilan yang berikutnya. Ada yang dengan sinis bertanya mengapa tak KB saja kalau hamilnya tersiksa? Tapi tak jarang juga yang selalu menanyakan cara cepat hamil pada istri saya yang selalu ia jawab dengan senyuman sembari melirik ke arah saya. Walau lebih banyak yang menyalahkan keputusan kami untuk tak menunda-nunda kelahiran anggota baru dalam keluarga, saya dan istri tak ambil hati. Kami pun sama sekali tak pernah merepotkan siapapun atas keputusan kami itu, pun itu keluarga kami. Dan istriku, selalu menjadi wanita yang tegar dan luar biasa kuat walau umurnya terbilang dini di zaman modern ini untuk menyandang status sebagai ibu.

Namun ketika Allah kembali mengamanahkan kami anak yang ketiga, ujian kembali menghampiri kami. Pengalaman ini selalu membuat kami berdua tak percaya berhasil melewatinya dengan baik. Awalnya istri saya tidak menyadari kalau dirinya tengah hamil. Namun ketika suatu hari di pertengahan maret 2010, saat ia sedang sibuk membereskan peralatan dapur yang baru saja selesai ia gunakan memasak di dapur, tiba-tiba saja ia lari ke kamar mandi. Cukup lama ia di dalam dan saat keluar ia terlihat sangat kacau juga lelah. Katanya, ia baru saja memuntahkan seluruh makanan yang tadi pagi ia makan. Belum sempat bicara lebih banyak, ia kembali menutup hidungnya dan berlari ke kamar, menyalakan kipas angin dan menutup hidungnya rapat-rapat dengan selimut.

Semakin bertambah hari, keadaannya semakin mengkhawatirkan saja. Setiap kali makan, setiap itu juga ia kembali memuntahkanya hanya jeda beberapa menit setelah tertelan. Jangankan makanan, air putih pun sulit ia minum dalam jumlah banyak. Beberapa kali saya ajak ke rumah sakit untuk memeriksakan diri, tapi ia menolak. Hingga keadaan semakin parah, meskipun menolak saya tetap memaksa mengantarkannya ke dokter. Dan benar saja, kata dokter istri saya hamil lagi. Namun kali ia mengalami hyperemesis gravidarum, yakni mual muntah berlebihan saat hamil. Harusnya ia dirawat inap di rumah sakit, tapi ia menolak dan memilih berobat jalan saja.

Sayangnya, meski telah berobat, berusaha mencari makanan dan minuman bernutrisi untuk ibu hamil yang bisa membantu mengurangi mual muntah parahnya, tetap saja tidak memberikan hasil lebih baik. Ia begitu tersiksa dengan keadaannya dan saya sebagai suami juga turut merasakan hal yang sama. Selalu saja sedih dan tak tega melihatnya setiap kali habis muntah dan itu berlangsung sepanjang hari, sejak ia bangun dari tidur, hingga tertidur lagi di malam hari.

Keladziman bagi setiap suami yang istrinya sedang hamil yaitu dipusingkan dengan permintaan istri yang ingin makan ini itu meski sulit dicari justru menjadi harapan. Saya selalu berharap, istri saya meminta kepada saya untuk membeli makanan apa saja yang mau ia makan, meski sulit saya berjanji dalam hati untuk mengusahakannya. Tapi tiap kali saya bertanya ingin makan apa, ia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala lemah dan itu membuat saya sangat sedih.

Keadaan makin sulit karena saya sendiri juga harus bekerja untuk menafkahi istri dan anak, juga tengah menempuh pendidikan sehingga waktu untuk lebih memperhatikan sang istri sangat sedikit. Dengan terpaksa saya memintanya agar mau dirawat di rumah kedua orangtua saya di kampung, karena ia sendiri sudah tak memiliki ibu yang mungkin bisa membantu memulihkan sakitnya itu.
Selama dua bulan lebih, kami berpisah. Anak-anak juga ikut dengannya karena di sana ada banyak saudara perempuan saya yang bisa membantu menjaga selama istri saya memulihkan diri. Keadaan itu semakin memicu saya untuk bekerja lebih giat, agar bisa menghasilkan lebih banyak dan bisa segera kembali berkumpul dengan istri dan anak-anak.

Alhamdulillah, situasi kondisi di kampung yang masih jauh dari berbagai polusi sehingga sangat membantu pulihnya kondisi istri saya. Setelah memastikan ia sudah bisa normal menjalani hidup, bisa makan dan minum dengan teratur, tak lagi mual muntah, saya kembali menjemput istri dan anak saya kembali ke Makassar.

Hari berlalu, bulan demi bulan berganti, semua berjalan dengan normal. Meski dengan perut yang semakin membesar, istriku tetap semangat menjalani tugasnya sebagai istri dan ibu seperti biasa. Dua kali salam sebulan, ia rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan dan setiap kali itu, dokter selalu mengatakan kondisi istri dan calon anak saya di dalam kandungannya baik dan sehat.

Hingga menjelang Oktober, sebulan sebelum perkiraan melahirkan dari dokter kandungannya, cobaan itu datang lagi.
Istriku yang tadinya merasa sehat, segar bugar tiba-tiba tak mampu bangun dari tidurnya. Katanya, kepalanya pusing, sakit dan serasa mau pecah. Tak lama berselang, ia mulai demam. Demamnya makin meninggi dan kembali tak bisa makan. Mual muntah yang pernah datang di awal kehamilan kembali membuat penderitaannya semakin lengkap. Tak cukup sampai di situ, dua hari kemudian, ia tiba-tiba tak bisa berjalan. Berdiri pun kesakitan. Sehingga untuk kesana-kemari harus dibopong. Bahkan jika saya sedang tak ada di rumah, ia terpaksa berjalan menggunakan kedua lutut dan pahanya. Sungguh tak tega rasanya melihat keadaannya. Berkali-kali saya paksa agar ia mau kembali memeriksakan diri ke rumah sakit. Tapi ia tetap menolak. Ia selalu bilang, keadaannya akan pulih dengan sendirinya dan hanya akan ke rumah sakit jika waktu melahirkan sudah tiba.

Saya tahu, ia menolak ke rumah sakit hanya karena khawatir biaya yang akan terpakai akan jauh lebih banyak dari yang kami siapkan, sementara waktu untuk lahiran masih jauh. Ia juga tetap melakukan aktivitas seperti biasa hanya untuk meyakinkan saya bahwa ia bisa pulih dengan sendirinya meski tampak sulit dengan berbagai rasa sakit yang ia tahan dalam diam.

Namun tetap saja perasaan itu tak bisa dibohongi, seminggu kemudian saya memaksa ia untuk ke rumah sakit. Kali itu ia hanya diam, tak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Ia hanya bertanya, apa uang kita cukup untuk biaya Persalinan nanti jika aku harus dirawat inap saat ini sementara belum saatnya melahirkan???

Soal uang, itu masih bisa saya usahakan. Tapi soal keselamatan dua nyawa, dirinya dan anak yang ada dalam kandungannya, itu adalah prioritas terpenting yang tidak bisa terlalu lama kuabaikan hanya karena ia merasa kuat melawan rasa sakitnya itu.

Keputusan dokter yang kudengar selang beberapa jam setelah memeriksakan diri hampir mambuat jantungku melompat. Kalau saja saya tidak segera membawa istri ke rumah sakit, bisa jadi ia harus dioperasi untuk melahirkan sang anak yang masih belum cukup umur dan berat badan untuk dilahirkan normal. Beruntung dokter hanya meminta saya mengusahakan pengobatannya yang biayanya memang terbilang cukup besar agar istri saya bisa segera berjalan dan sehat kembali sebelum memasuki masa-masa persalinan. Ia harus dirawat inap dan terpaksa diinfus yang belakangan saya tahu bahwa alasannya sejak awal menolak ke rumah sakit adalah sama seperti saat terkena hyperemesis gravidarum di awal kehamilan dulu, takut diinfus karena memang seumur hidupnya belum pernah mengalami. Namun kali ini ia tak bisa menolak. Infus itu harus segera terpasang untuk memulihkan kondisinya. Saat jarum infus itu dipasang di lengannya, kulihat ia menitikkan air mata. Sudah puluhan kali ia disuntik saat memeriksakan kandungan, ia tak pernah merasa sakit apalagi ketakutan tapi saat diinfus, ia benar-benar terlihat kesakitan.

Tiga hari dirawat, akhirnya kami diperbolehkan pulang. Istriku sudah bisa kembali berjalan dan beraktifitas seperti biasa, hanya saja ia masih tak bisa makan dengan lahap. Rutinitas pagiku yang biasanya berawal dari menyantap sarapan yang sudah tersedia berubah menjadi menyiapkan sarapan sendiri juga untuk istri dan anak-anakku. Setelahnya, kembali melakukan saran dokter yaitu memijat kaki istriku yang sempat lumpuh dengan jel khusus dari dokter, memandikan anak-anak, mencuci piring dan baju kotor, baru setelah itu kembali bekerja sambil kuliah.

Memang sangat melelahkan tapi dengan kejadian ini, saya tersadar bahwa betapa beratnya tugas seorang istri sekaligus ibu seperti yang selama ini ia jalani dengan sabar. Kehamilan istri yang kali ketiga ini benar-benar memberi banyak pelajaran berarti buat saya hingga tercetus azzam dalam hati untuk menjadi suami yang jauh lebih baik lagi, lebih peka, lebih memahami sang istri. Mengingat begitu besar jasa yang telah ia lakukan selama ini untuk kami orang-orang yang dicintainya tanpa pernah mengenal lelah juga keluh kesah.

Dan si kecil yang akhirnya terlahir 3 minggu lebih cepat dari perkiraan itu tepatnya hanya selang sepuluh hari setelah istriku dirawat inap sebelumnya kini telah tumbuh menjadi anak yang begitu lucu, pintar dan selalu membawa kegembiraan dalam keluarga kecil kami. Abdurrahman Faiz Alsadi, nama yang dipilih oleh istriku sebagai doa untuknya. Kali ini saya mengalah dan memberinya kesempatan memberi nama setelah kedua anak sebelumnya kumonopoli, mengingat betapa kuatnya ia berjuang mempertahankan kandungannya hingga terlahir ke dunia. Kami ingin si bungsu itu kelak benar-benar menjadi pemenang dalam kebaikan dimanapun ia berada, seperti ibunya yang berhasil memenangkan dirinya berjuang melawan beragam derita sepanjang mengandung si bungsu.

Seperti yang sejak awal saya tekankan, kehamilan itu adalah sebuah proses yang menakjubkan. Selalu membawa cerita berbeda dengan beragam rasa sepanjang perjalanannya. Telah tiga kali saya menemani sang istri menjalani kehamilannya sebagai seorang suami. Semua punya cerita berbeda namun yang ketiga ini benar-benar sarat dengan perjuangan yang mampu membuka mata saya lebih lebar, mengasah kepekaan agar lebih sigap bertindak sebagai suami siaga sekaligus membuat saya terus berusaha belajar dan memperbaiki diri, untuk menjadi seorang suami sekaligus bapak yang jauh lebih baik lagi.

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Awal Maret 2012 yang diselenggarakan oleh Mbak Andy Hardiyanti.


TAGS kehamilan suami suami siaga hyperemesis gravidarum Giveaway awal maret 2012 ngidam


-

Author

Follow Me