Zakat Fitrah, Mata Rantai Kebahagiaan Kaum Muslimin Di Hari Raya

24 Jul 2013

Ramadhan adalah bulan yang istimewa, dimana umat muslimin saling berlomba-lomba melakukan kebaikan. Baik itu yang berupa kewajiban maupun yang termasuk disunnahkan. Salah satu kewajiban yang dikenakan merata pada kaum muslimin mulai dari anak yang baru saja terlahir ke dunia hingga yang telah udzur adalah mengeluarkan zakat fitrah.

Zakat Fitrah adalah zakat yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW yang sifatnya universal, tanpa memandang gender, jenis kelamin, status social, suku bangsa, maupun umur. Sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari tahu mengapa zakat fitrah diwajibkan pada umat muslimin mulai dari anak yang baru saja lahir bahkan pada orang yang berada dalam sakaratul maut sekalipun. Karena tanpa mengetahui alasan jelasnya maka pelaksanaannya menjadi tidak sempurna sesuai yang disyariatkan.

Zakat fitrah lazimnya dikeluarkan menjelang akhir ramadhan atau pada tanggal 1 syawal sebelum pelaksanaan shalat. Meskipun belakangan ulama bersepakat agar dimajukan 1 atau 2 hari sebelumnya. Hal ini terjadi tentunya juga berkenaan dengan makna dan manfaat dari zakat fitrah itu sendiri.

Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa zakat fitrah adalah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor. Zakat fitrah juga sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin agar di akhir ramadhan nanti, tepatnya sebelum kita ramai-ramai melaksanakan shalat idul fitri, diharapkan Allah telah memberikan ampunan atas segala dosa-dosa kita selama berpuasa dan bagi orang-orang yang tidak mampu pun dapat merasakan nikmat di hari raya dengan tercukupinya kebutuhannya di hari itu.

Untuk saya pribadi, zakat fitrah telah menjadi mata rantai kebahagiaan kaum muslimin di hari raya. Mengapa saya sebut demikian??? Karena dua kata (zakat dan fitrah) yang pemenuhannya tidak berat ini mampu memberi kebahagiaan bagi banyak orang yang saling terkait satu sama lain. Seseorang yang mengeluarkan zakat fitrah, artinya telah menjamin kehidupan 1 hari bagi 3 orang sekaligus, yaitu bagi diri sendiri selaku pemberi zakat, bagi amil/penyalur zakat juga bagi yang berhak menerima zakat.

Mengapa amil/penyalur zakat juga tak lepas dari mata rantai ini, karena jika pemberi zakat langsung memberi kepada yang berhak menerima, dikhawatirkan terjadi ketidakmerataan. Seperti yang pernah keluarga kami alami saat saya masih remaja dulu. Orang tua saya langsung membawa zakat fitrah kami sekeluarga kepada seorang nenek yang berprofesi sebagai tukang urut ibu setiap kali hamil dulu.

Bagi kami, ia berhak mendapatkannya karena hidup sendiri tanpa satupun sanak keluarga dan memang hidupnya cukup mengkhawatirkan. Tapi ternyata, saat sampai di rumah beliau, kami melihat begitu banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan kami sehingga terjadi penumpukan sementara kami yakin, masih banyak keluarga lain yang mungkin belum ada satupun orang yang memberi zakat kepada mereka. Disinilah amil zakat sebagai penyambung agar semua yang berhak menerima, benar-benar mendapatkan haknya.

Bayangkan jika semua umat muslimin yang diberi kehidupan yang berkecukupan dan kesemuanya benar-benar mengeluarkan zakat fitrahnya??? maka seharusnya tidak ada lagi orang yang kesulitan di hari raya. Semua bisa merayakan dengan makanan dan minuman yang cukup.

Zakat fitrah sudah menjadi mata rantai kebahagiaan yang mengikat satu sama lain. Antara yang kaya dengan yang miskin.Antara orang berpangkat dan orang biasa.Antara yang muda dengan yang tua. Antara lelaki dengan perempuan. Benar-benar merata dan universal. Maka dengan mengetahui betapa besar manfaat zakat fitrah yang kita keluarkan, masihkan kita enggan???

Meskipun yang kita keluarkan itu tidak seberapa namun kebahagiaan yang menerima manfaat dari zakat fitrah yang kita keluarkan itu jelas tak terkira.

Begitupun dengan kebahagiaan yang kita rasakan sendiri sebagai pemberi zakat. Bisa menjadi orang yang bermanfaat itu sensasinya sungguh berbeda. Seperti dalam sebuah hadist yang menjelaskan tentang ini. Kebaikan seseorang, yang dapat menjadi salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain.

Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.(HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi orang yang bermanfaat utamanya di hari raya, hati merasa lega dan bahagia karena bisa berbagi dan benar-benar bisa merasakan nikmatnya karunia Allah di hari fitri.

Kembali kepada pengertian awal, zakat fitrah atau zakat fitri atau zakat berbuka adalah zakat yang dikeluarkan agar orang-orang yang telah berpuasa selama sebulan penuh, dapat kembali merasakan nikmatnya makan. Tak hanya bagi orang yang mampu, tapi juga bagi kaum miskin dan terlantar.

Jika sebelumnya selalu merasakan kesulitan untuk makan, maka dengan adanya kewajiban mengeluarkan zakat fitrah, diharapkan semua umat muslimin tak terkecuali bisa meRAYAkan hari raya idul fitri dengan sebenar-benarnya, aamiin :)


TAGS ngaBLOGburit manfaat zakat fitrah


-

Author

Follow Me